Senin, 26 April 2010

makna nama aditya

Banyak teman akhir-akhir ini membicarakan tentang arti nama mereka,, saya jadi penasaran dengan nama saya. nama depan saya aditya. Saya pikir nama itu tidak ada artinya, dan setelah mencari tahu saya hanya bisa tersenyum, karna nama yg identik dengan nama seorang laki-laki itu memiliki arti yang sangat kuat bagi saya.
ADITYA
Aditya adalah satu kata yang berasal dari bahasa Sansekerta. Sesuai dengan ketentuan internasional penulisan kata Sansekerta dalam huruf Latin, kata "Aditya" harus dieja demikian: "Âditya". Vokal "a" pada awal kata "aditya" adalah satu vokal panjang yang berbeda dengan vokal "a" biasa; hal ini hanya bisa dilihat atau dibaca dalam huruf "Devanâgarî" yang biasa dipakai untuk bahasa Sansekerta seperti yang termuat dalam kitab Veda. 
Arti umum dari kata "aditya" adalah matahari. Tetapi arti umum ini hanyalah salah satu dari dereten arti yang dapat kita kutip dari kamus bahasa Sansekerta. Di dalam kamus ini kata "aditya" dapat berfungsi sebagai satu "kata sifat" dan dapat pula sebagai satu "kata benda yang berjenis maskulinum". Sebagai kata sifat, "aditya" mempunyai dua arti: "yang menjadi milik Aditi atau yang berasal dari Aditi" dan "yang menjadi milik Aditya atau yang berasal dari Aditya." Aditi sendiri dalam kaitannya dengan Aditya berarti ibu dari Aditya dan dewi bumi dalam mitologi India. Sebagai kata benda yang berjenis maskulinum, kata "aditya" memiliki beberapa arti. Selain "Aditya" berarti matahari dalam arti umum, juga "aditya" adalah nama putera dari dewi Aditi. Tetapi bila kata "aditya" digunakan dalam bentuk jamak ( Adityas ), maka "aditya" berarti putera-putera dewi Aditi. Mereka adalah sekelompok dewa. Menurut sumber-sumber tertulis dalam tradisi keagamaan Hindu, sering nama "aditya" dikenakan untuk dewa Varuna sebagai pemimpin dewa-dewa lain; di dalam sumber tertulis lain, nama "aditya" dikenakan untuk dewa Vishnu, atau juga untuk nama dewa matahari yang disebut juga "Sûrya".
Arti-arti di atas hanya dapat ditetapkan bila arti-arti itu dilihat dalam konteks pembicara dan pendengar atau juga dalam konteks penggunaannya dalam tulisan. Maka, di sinilah penelitian kata "aditya" di bidang pragmatiknya diperlukan. Pada zaman Veda (abad 12 - 6 seb. M), terutama dalam Kitab Rigveda, kata "Aditya" adalah nama kelompok dewa penguasa yang menyandang nama "Asura". Beberapa dewa yang menonjol dari kelompok ini adalah Varuna, Indra, Agni, Soma, Rudra dan Vishnu. Varuna merupakan Asura agung yang menjadi penguasa alam semesta, penjaga hukum kosmos, penjamin moral dan kebenaran. Matahari dilihat sebagai mata Varuna yang menyinari dan menyelidiki segala sesuatu, termasuk memantau peri laku hidup manusia. Kata "Aditya" dalam penggunaan singularnya sering diidentikan dengan dewa Varuna oleh karena peranan Varuna yang lebih menonjol dari dewa-dewa lain. Di dalam buku Bhagavad-Gîtâ ( sekitar 500-200 seb.M.), kata "Aditya" dipakai dalam bentuk jamak dan diperuntukkan bagi kelompok dewa yang berjumlah dua belas. Di antara ke dua belas aditya ini, Visnu menyatakan diri sebagai Aditya yang paling utama. Dia menyebut diri sebagai matahari yang merupakan sumber dari segala sumber cahaya. Sering nama "Aditya" dalam bentuk singularnya dikenakan kepada dewa Visnu yang menjelma dalam diri Kresna seperti yang ditafsirkan dalam Bhagavad-Gîtâ dan dalam tulisan Mahâbhârata.
Nama "Aditya" yang dihubungkan dengan matahari tampaknya sedari mula dalam masa penulisan Kitab Veda sudah diungguli oleh nama "sûrya" yang dikenakan kepada "dewa matahari" ( istilah lazimnya "Sûrya-deva" ); Sûrya dihormati sebagai Tuan ciptaan, sumber hidup, terang dan kehangatan. Meskipun demikian, baik kata "Aditya" maupun kata "Surya" dalam pemakaian selanjutnya tetap sama-sama merujuk kepada arti profan dan sakral yang sama. Keduanya berarti matahari sebagai satu benda angkasa yang menerangi bumi dan sebagai manifestasi satu realitas tertinggi yang bersifat ilahi. Penggunaan kata "aditya" yang kita perkenalkan di sini menunjuk kepada arti religius yang disebut terakhir ini.
    walaupun nama aditya identi dengan laki-laki namun saya merasa senang. Karena matahari memberikan kehidupan, rasa hangat, cerahnya membuat kita menjadi semangat, dan masih banyak lagi. Dan saya berharap saya bisa menjadi matahari yang tidak pernah padam seperti lilin. Menjadi seseorang yang berguna bagi orang-orang dsekeliling saya, membuat mereka bahagia dan memberikan yang terbaik untuk semua terutama yg tersayang :) matahari yang tidak pernah padam, yang akan tetap bersinar. Bukan seperti lilin yang nyalanya hanya sesaat dan akhirnya padam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar